JURNAL : RANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF MENGENAL HIV/AIDS PADA MATERI BIMBINGAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH ATAS

JURNAL : RANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF MENGENAL HIV/AIDS PADA MATERI BIMBINGAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH ATAS

RANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF MENGENAL HIV/AIDS PADA MATERI BIMBINGAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH ATAS

Abstrak - Perkembangan teknologi yang sangat pesat khususnya komputer, membawa efek positif dalam dunia pendidikan. Komputer dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran yang interaktif. Untuk memudahkan dalam penyampaian materi pembelajaran terhadap siswa maka materi pembelajaran dikemas secara menarik dalam bentuk multimedia yang bersifat mendidik dan menghibur bagi para siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat suatu rancangan aplikasi media pembelajaran interaktif pengenalan materi bimbingan konseling HIV/AIDS sebagai alternatif media pembelajaran yang mudah dipahami oleh siswa tingkat sekolah menengah atas dengan konsep edutainment. Penelitian perancangan aplikasi media interaktif ini meliputi metode observasi, wawancara serta studi pustaka yang dilakukan dalam ruang lingkup sekolah tempat penelitian. Hasil dari penelitian ini berupa rancangan dan implementasi sistem dimana penulis menggunakan Story Board dan State Transation Diagram dalam perancangan aplikasi dan aplikasi Adobe Flash CS3 dalam pengimplementasiannya. Manfaat dari media pembelajaran interaktif ini tentu dapat mengatasi masalah dalam penyampaian materi pembelajaran didalam kelas yang masih menggunakan metode ceramah dan menggantikannya dengan cara yang lebih efektif dan menarik.

 Kata Kunci— Interaktif, Media Pembelajaran, HIV/AIDS, Flash



I. PENDAHULUAN
Data departemen kesehatan menunjukan peningkatan tajam angka infeksi HIV/AIDS dari tahun ke tahun. Sejak ditemukan kasus pertama tahun 1987, hingga maret 1996 tercatat 390 kasus di 15 propinsi. Jumlah ini belum menunjukan keadaan sebenarnya. Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan jumlah sebenarnya paling tidak 100 kali lipat dari yang dilaporkan dan sebagian terbesar (lebih dari 80%) menyerang kelompok usia produktif (20 tahun - 49 tahun). Adapun dampak psikologi dan sosial dari kenaikan tersebut akan berimplikasi pada menurunnya produktifitas kerja dan akan membebani pemerintahan dalam dunia usaha untuk membiayai perawatan penderita AIDS yang sangat mahal. Pengalaman dari beberapa negara yang memiliki kondisi kultural, sosial dan pola epidemi awal yang sama dengan Indonesia (seperti Thailand dan India). Realita memperlihatkan kepada kita bahwa jika tidak dilakukan suatu usaha pencegahan yang sungguh-sungguh dan efektif melalui komunikasi, informasi dan edukasi, maka dalam beberapa tahun saja angka-angka tersebut akan makin naik dengan sangat mengerikan. Indonesia masih mempunyai kesempatan untuk mencegah bencana semacam itu jika kita dapat segera mengkonsolidasi daya dan dana untuk menanggulangi HIV/AIDS.

DOWNLOAD JURNAL